Senin, 25 Februari 2013
Cerpen

Angin malam berhembus kencang
menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil
dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam,
namun pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Jono yang sedang
padam bagai tersiram air yang deras.
Jono adalah seorang pria yang sedang
berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan
istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Jono termenung tak berdaya,
pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang
dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih
tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia
hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar
rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi
telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang
Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong
dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan
membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya
ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai
kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam
buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran
sang Ibu yang dulu di sayangnya.
Dua jam berlalu, Jono masih dalam
posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh
kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam
yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa
tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu
adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera
memanjatkan doanya.
“wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan
keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih
percaya dengan Tuhan.
Selang beberapa menit, suara handphone
yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada
yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih
mengingat istri dan anaknya.
“semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.
Tangan kanannya yang semula memegang
permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku
bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya.
JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAH
Melihat pesan tersebut ekpresi
wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung
terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan
terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan
berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya.
“wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau
tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan
kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah
tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan.
Derai air mata yang pada saat itu
terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka
di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah
mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah
dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.
Akhirnya ia bergegas menuju rumah
orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu
nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya
lah saja.
Sepeda besi berkarat yang setia
menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia
tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh
seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban
kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah,
rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua
puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak
kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya
yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia
masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu
dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat
sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos
melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono.
“Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya
membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya.
“ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya
dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk
tubuh ayahnya.
“sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah
lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena
sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.
Perbincangan ayah dan anak tersebut
terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya.
“ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.
Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah,
setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah.
“itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat
merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya
“nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang
bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah.
“baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin
mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis.
Akhirnya Jono pulang dan kembali ke
rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu
dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah
perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk
botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau
nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka
ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar
asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit
demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur
tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan
jono.
“siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu.
“hahaha...,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan
hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan,
hahaha... .”jawab jin itu puas.
Mendengar penjelasan jin, jono
seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya.
“baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika
tidak kau berarti hanya seorang pembual.”
“memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.”
“aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk
halus.”
“Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik
permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.”
“wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin
berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”
Mendengar jawaban jono, jin itu
menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi
satu pesan kepada jono.
SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN,
MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI
BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN.
THE
END
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar