Selasa, 19 Februari 2013

Belum Tentu Itu Yang Terbaik


Belum tentu yang terbaik menurutmu, itu yang terbaik untukmu

Diwajibkan kepada kalian berperang walaupun itu sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui) (Al Baqarah, 2:216)

Bukan hal yang mustahil suatu saat seseorang menangis dan meratapi peristiwa yang menimpa diri kita, padahal menurut Allah pada saat yang sama seharusnya yang bersangkutan tertawa dan bersyukur, sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan seseorang tertawa, padahal menurut Allah seharusnya yang bersangkutan menangis dan bertaubat kepada Allah. Ini terjadi karena kita sangat tidak mampu membaca hikmah di balik dari setiap peristiwa yang sedang direncanakan oleh Allah untuk kita.

(Diwajibkan kepada kalian berperang). Di dalam ayat ini tidak dijelaskan kapan dan untuk apa kita diperintahkan berperang,  yang ditekankan dalam ayat ini bahwa kewajiban yang Allah tetapkan untuk berperang di antaranya untuk membela hak-hak dan atau membela keyakinan kita.

(Walaupun itu sesuatu yang kalian benci). Allah SWT menyatakan bahwa perang itu sendiri adalah perkara yang tidak disukai manusia. Pertanyaannya, kenapa Allah mewajibkan sesuatu yang tidak disukai? Jawabannya dinyatakan dalam lanjutan ayat: (Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian).

Dengan tegas di awal ayat Allah menyatakan sesungguhnya itu berat bagi kalian karena kalian tidak akan suka. Hal ini sekaligus Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa sesuatu yang tidak kita sukai/benci itu tidak selalu benar menurut ukuran perasaan dan akal kita.

Sebaliknya, dalam lanjutan ayat dinyatakan: (Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian). Di sini Allah meyakinkan kepada kita bahwa, ”hendaknya setiap sesuatu itu tidak diukur baik atau buruknya dengan ukuran nafsu dan akal kita, tetapi baik atau buruk menurut Allah. Jika Allah memerintahkan sesuatu itu sudah pasti baik, dan jika Allah melarang sesuatu itu pasti tidak baik”. Di mana letak baiknya silakan kita mencari hikmahnya.

Karena Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, maka di ujung ayatnya dinyatakan: (Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui).
Oleh karenanya, janganlah kita mengukur sesuatu dengan kemampuan hawa nafsu kita, boleh jadi di balik terjadinya peristiwa yang menimpa diri kita ada hikmah yang bisa kita petik. Kalau prinsip ini bisa kita pegang rasanya aman hidup ini, syaratnya selama kita telah berupaya berjuang untuk hidup di jalan-Nya, pasti Allah akan memilihkan yang terbaik, walaupun sejuta akal manusia mengatakan tidak baik, kita akan katakan ini yang terbaik karena kita berjalan di jalan-Nya.



0 komentar:

Posting Komentar