Selasa, 19 Februari 2013

Keikhlasan dalam Islam


Keikhlasan dalam Islam
Setiap perbuatan manusia bisa bernilai ibadah jika persyaratannya dipenuhi (muslim, ikhlas, dan sesuai yang Nabi SAW contohkan). Salah satu syarat tersebut adalah ikhlas, lalu apa yang dimaksud dengan ikhlas?
ikhlas berasal dari kata khalasha yang maknanya ialah kemurnian, kejernihan, atau hilangnya segala sesuatu yang mengotori. Sehingga secara istilah syara’, ikhlas adalah membersihkan niat dalam beribadah semata-mata hanya karena Allah.
Ada beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan, antara lain:
1.                   1.       Riya’ dan Sum’ah.
2.      ‘Ujub 
3.      Menjadikan ikhlas sebagai wasilah (sarana), bukan maksud dan tujuan.

Amalan-amalan yang tidak termasuk riya’ antara lain:
1.      Seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?” Beliau SAW menjawab: “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
2.      . Rajin beribadah ketika bersama orang shalih.
3.      Menyembunyikan dosa.
4.      Memakai pakaian yang bagus.
5.      Menampakkan syiar Islam.
Buah sikap ikhlas.
1.      Benteng dari godaan setan.
2.      .Mengubah amal yang mubah menjadi bernilai ibadah.
3.      Memperoleh pahala meskipun amal kebaikan belum dilakukan atau diselesaikan.
4.      Pertolongan Allah di saat sulit.
5.      Hati yang tenang dan tenteram.
Hati yang tenteram karena keikhlasan akan memunculkan manusia yang memiliki kekuatan jiwa, dengan ciri-ciri antara lain:
a.) Sabar terhadap panjangnya jalan perjuangan, tidak terburu-buru dan tergoda untuk menempuh jalan pintas yang tidak berkah.
b.) Istiqamah dalam memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan.
c.) Setiap kegagalan disikapi dengan lapang dada, karena ia yakin bahwa selama ikhtiar sudah jalankan, maka Allah akan tetap memberi ganjaran di akhirat.
d.) Merasa senang jika kebaikan terlaksana di tangan saudaranya, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
e.) Berusaha membangun amal jama’i, tidak bertujuan mengejar popularitas pribadi atau membesarkan kelompok tertentu semata, karena setiap apa yang dilakukan untuk meraih ridha Allah SWT maka tolok ukurnya adalah kemuliaan Islam dan umat Islam.
f.) Menyadari kelemahan dan kekurangannya sehingga selalu mengevaluasi dan mewaspadai munculnya riya’ dalam dirinya.
g.) Menjadikan keridhoan dan kemarahan karena Allah SWT, bukan karena pertimbangan pribadi.
h.) Tidak menyesuaikan perbuatan semata-mata agar dikagumi atau tidak bertentangan dengan orang yang disukai/dihormati.
i.) Tidak mengungkit-ungkit jasa yang pernah dilakukan atau mendendam karena perannya dilupakan.
j.) Mengambil keputusan tidak semata-mata karena pencitraan atau mencari popularitas atau menyesuaikan dengan kehendak orang banyak, melainkan dengan berdasar pada hukum Allah SWT.
Oleh karena itu, keikhlasan harus dijaga bukan saja di awal amal, melainkan juga selama amal tengah dijalankan, dan juga setelah amal usai dilaksanakan.

0 komentar:

Posting Komentar